KOMUNIKASI RISIKO

A.   KONSEP DAN PENGERTIAN KOMUNIKASI RISIKO

Komunikasi dapat dipahami sebagai tindakan berbagi atau bertukar pikiran, ide, dan pendapat antara dua orang atau lebih. Yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, pertukaran tersebut bersifat otomatis dan berlangsung tanpa banyak pikir. 

Risiko merupakan kombinasi kemungkinan suatu peristiwa dan konsekuensinya. Risiko merupakan hasil dari interaksi antara alam dan manusia terkait bahaya bencana, kerentanan, keterpaparan, dan kapasitas. 

Komunikasi risiko ialah pertukaran informasi, nasihat, dan pendapat mengenai risiko serta faktor-faktor yang berkaitan dengan risiko secara real-time antara para ahli, tokoh masyarakat atau pejabat, dan orang-orang yang berisiko. Tujuan komunikasi risiko adalah agar publik dapat mengambil keputusan untuk melakukan perilaku menghindari atau mengelola risiko untuk melindungi dirinya sendiri dan orang lain.

 

B.    PENDEKATAN DAN TEORI-TEORI KOMUNIKASI RISIKO

Konsep teori terkait KR menurut Betty (2017), berkaitan dengan penelitian sosial dari perspektif dan paradigma psikometrik, teori budaya (cultural theories), dan ekonomi.

1.    Risk Perception

Untuk membangkitkan kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat untuk selalu siap siaga menghadapi bencana adalah mengetahui pandangan dan sikap masyarakat dalam menghadapi bencana. Bagaimana memahami manusia menggunakan pikiran temasuk emosi.

·         Berfokus pada persepsi masyarakat awam yang berbeda dengan persepsi para ahli bencana.

·         Masyarakat awam melakukan penilaian (judgement) terhadap ketidakpastian seperti bencana bersandar pada domain affective, yaitu mengedepankan emosi, intuisi, stereotyping, perasaan, dan nilai nilai budaya.

·         Para ahli melakukan penilaian berdasarkan domain cognitive, yaitu pengetahuan, analisis, mengedepankan fakta, sintesis, dan evaluasi terhadap bencana.

·         Perbedaan penilaian atau pertimbangan ini perlu menjadi dasar bagi para pembuat kebijakan ketika menyusun program KR supaya masyarakat mengambil tindakan yang tepat terhadap bencana.

Faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat lebih merasakan takut luar biasa terhadap bencana (Covello, 1989), yakni:

1.    Voluntariness/kesukarelaan.

2.    Control/kontrol.

3.    Fairness.

4.    Familiarity.

5.    Natural and manmade disasters.

Pembahasan konsep risk perception (constructing risk, risk attitude, psychometric paradigm, dll).

Teori risk perception adalah cultural risk theory, mental models approach, social amplication of risk, expected value/utilty theory, prospect theory, conjoint expected theory (Betty, 2017).

 

2.    Komunikasi Persuasi

Komunikasi persuasi, yaitu "human communication designed to influence others by modifying their beliefs, values, or attitudes (O'Keefe, 2002) and behaviour (Betinghaus & Cody, 1987) that persist over time.  Artinya, komunikasi persuasi adalah penyampaian informasi untuk memengaruhi penerima pesan atau lainnya dengan mengubah kepercayaan, pandangan, sikap, dan perilaku secara terus-menerus.

Komunikasi persuasi ditentukan oleh faktor-faktor komunikasi seperti sumber (source), pesan (message), media (channel), penerima (receiver) yang dapat menimbulkan efek (effect) dan umpan balik (feedback)

 

Pendekatan komunikasi persuasi:

a.    Teori Klasik Komunikasi Persuasi

b.    Plan Behaviour Theory (Ajzen, 1992).

c.    Elaboration Likelihood Model.

d.    Learning Theory (Albert Bandura,1977).

e.    Social Judgment Theory.

f.     Information Integration Theory

 

C.   TUJUAN DAN PRINSIP KOMUNIKASI RISIKO

a.    Meningkatkan kesadaran dan pemahaman bahaya.

b.    Meningkatkan perilaku untuk menanggulangi bencana.

c.    Memberikan pemahaman tentang proses dan mekanisme pengambilan kebijakan tentang komunikasi risiko.

d.    Mempromosikan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan

e.    Membangun hubungan yang kuat dengan kepercayaan

f.     Pertukaran informasi, pengetahuan, perilaku, praktik-praktik, dan persepsi (START, 2012).

 

Prinsip Komunikasi Risiko (WHO):

1.    Kepercayaan,

2.    Transparansi,

3.    Mengumumkan Lebih Awal,

4.    Mendengarkan,

5.    Merencanakan.

 

Prinsip komunikasi risiko

Mengetahui target audiens, Pemilihan jenis media, Melibatkan keahlian bidang komunikasi, Memanfaatkan sumber informasi yang kredibel, Melakukan “sharing” tanggung jawab, Membedakan antara “science” dan “value judgement”, Menjamin transparansi.

 

Aspek Penyampaian Komunikasi Risiko

1.    Kredibilitas

2.    Konteks

3.    Isi Pesan

4.    Kejelasan

5.    Kontinuitas dan konsistensi

6.    Jaringan

7.    Kemampuan audiens

 

D. STRATEGI KOMUNIKASI RISIKO DALAM PENGELOLAAN BENCANA

1.    Komunikasi Risiko Prabencana

Komunikasi Prabencana adalah komunikasi sistematis untuk menganalisis dan mengelola faktorfaktor penyebab bencana, termasuk melalui pengurangan keterpaparan terhadap ancaman bahaya, pengurangan kerentaan penduduk dan harta benda, pengelolaan lahan dan lingkungan secara bijak dan meningkatkan kesiapsiagaan sebelum bencana terhadap peristiwa-peristiwa merugikan. Menurut Pasal 47 Ayat 2 (c), yakni: melalui pendidikan, penyuluhan dan pelatihan, baik secara konvensional maupun modern.

·         Perilaku pengurangan risiko dan kesiapan yang diinginkan melalui identifikasi dan peman faatan saluran komunikasi yang efektif.

·         kesiapsiagaan risiko (sistem peringatan dini /early warning system)

·         pelatihan untuk penggunaan alat komunikasi pada tahap kesiapsiagaan yang efektif juga penting selama tahapan ini.

 

2.    Komunikasi Risiko Tanggap Darurat Bencana

Komunikasi risiko tanggap darurat atau saat tejadinya bencana adalah mekanisme komunikasi yang menjamin informasi disampaikan dengan tepat dan akurat pada saat tejadi bencana agar masyarakat tangguh bencana.

·         Pemerintah, lembaga/organisasi, dan masyarakat semakin perlu bekerja sama untuk menerapkan strategi tanggap darurat yang efektif.

·         Publikasi terhadap informasi dapat menjadi sumber utama pada saat tanggap darurat bencana, namun sangat penting untuk memastikan masyarakat memiliki akses cepat kepada informasi.

·         Organisasi dan hubungan masyarakat yang kuat dapat membantu mereka untuk memahami sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku publik.

 

3.    Komunikasi Risiko Pascabencana

Komunikasi risiko pascabencana adalah komunikasi yang dilakukan untuk mengembalikan masyarakat penyintas bencana pada kondisi kehidupan normal.

 

Fokus komunikasi pascabencana.

Pertama, pengembangan visi yang kuat oleh masyarakat mengenai perencanaan, penataan kota, serta mitigasi bencana.

Kedua, visi dan strategi yang telah disusun dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.

Hal-hal yang dapat dilakukan meliputi

a.    Membangun dukungan dan menghadapi datangnya bencana,

b.    Membangun kapasitas analisis jaringan/pemangku kepentingan untuk mempersiapkan risiko yang mungkin akan terjadi,

c.    Menindaklanjuti kebijakan yang menghambat perencanaan dan mitigasi, serta

d.    Mengomunikasikan keterlibatan dalam perencanaan yang menginformasikan cara mendorong keterlibatan dengan menggunakan media sosial dan penjangkauan media lainnya.

 

Referensi

Adiyoso, W. (2018). Manajemen Bencana Pengantar dan Isu-Isu Strategis. Jakarta: Bumi Aksara.

Biro Komunikasi dan pelayanan masyarakat. 2021. Pedoman Komunikasi Risiko untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Lima, R. d. (2018). Komunikasi Bencana:Aspek Penting Pengurangan Risiko Bencana. Yogyakarta: KANISIUS.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSEP MANAJEMEN BENCANA

REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCA BENCANA